Religi

Bukankah Semesta Juga Bertasbih?

Betapa agung kalam Tuhan, sang creator alam semesta yang teramat luas, tempat dimana ia menaburkan manusia dan makhluk lainnya untuk hidup dan mengais rizki. Jagat raya ini tersusun dari sejumlah materi yang bertaburan dalam sebuah media-ruang yang kita sebut space/angkasa. Materi-materi yang tak terhitung jumlahnya tersebut lantas kita sebut planet, bintang, asteroid, komet dan lain sebagainya. Kesemuanya menyatu dalam kesatuan kosmik yang seimbang, menjadi unsur-unsur yang menopang eksistensi jagat kita dengan luas yang tak terperkirakan. Sebagai perbandingan saja, seandainya sebuah bintang terlahir disisi sebelah timur jagat raya, maka bintang itu akan telah mati sebelum cahayanya mencapai sebelah barat jagat raya. Padahal usia bintang bermilyar-milyar tahun lamanya. Katakanlah matahari, entah sudah berapa milyar usianya sejak ia bersinar pertama kali.

Tak berhenti sampai disana, kesempurnaan alam itu tak cukup pada ketertataan yang mandeg bahkan sebaliknya, alam ini tersusun atas kesatuan materi yang progressif, terus bergerak. Tidak ada satu teoripun yang menyatakan bahwa benda-benda dialam raya ini diam tak bergerak. Semuanya bergerak secara simultan. Yang satu mengelilingi lainnya, sementara yang lain memutar secara rotasi. Planet-planet mengelilingi matahari. Matahari berotasi terhadap sumbunya. Satelit mengelilingi planet. Planet ditat surya kita yang berjumlah 10 buah, setelah planet terakhir ditemukan dua tahun lalu, tak henti-hentinya bergerak seolah memberikan sebaris kalimat kepada kita: Kami sedang bekerja! Matahari, fluida cair yang berpijar tak henti-hentinya melakukan reaksi fusi hidrogen yang menimbulkan letupan dan cahaya yang menerangi kita.

Apakah hal tersebut terbatas pada benda-benda yang makro? Tidak! Setiap benda tersusun atas molekul-molekul yang juga terus bergerak. Setiap molekul tersusun atas atom-atom yang juga terus bergerak. Setiap atom tersusun atas elktron-elektron yang terus berputar mengelilingi inti atom. Atom sebagai materi inti dan terkecil saat ini, juga bergerak. Mari kita merenung sejenak, kita selama ini hanya memandang planet sebagai bongkahan-bongkahan raksasa yang terserak di angkasa, tanpa peranan, tanpa eksitensi. Kita memandang batu-batu sebagai entitas yang mati dan bisu, seolah hidup adalah milik kita sendiri. Kita tidak melihatnya sebagai makhluk yang juga diciptakan Tuhan, dan ternyata mereka lebih taat dan patuh pada Tuhan ketimbang kita yang angkuh ini. Coba bayangkan seandainya matahari kita mogok bereaksi, planet mogaok berotasi, andai mereka sejenak saja membangkang seperti kita, apa jadinya alam ini.


Saat mata hati kita dibuka untuk tidak melihat benda-benda dialam ini hanya sebatas materi mekanis yang mati dan menempatkan mereka sebagai makhluk yang ‘berjiwa’, maka kita melihat sebuah dunia yang sama sekali lain. Kita mendapati diri kita tak sendiri. Kita bukan satu-satunya ciptaan tuhan yang eksis, dan betapa kecilnya kita yang tak ubahnya seperti seekor kutu yang menempel dikerak bumi yang sedang bekerja dihadapan penciptanya. Bertasbih!


Kita dapati diri kita selama ini hanya diam terpaku, melongo saja, sementara’rekan-rekan kita’ sesama ciptaan dan karya Tuhan tegah bekerja keras di hadapanNya. Kita diingatkan bahwa mereka saja yang mati tak diciptakan untuk sekedar terserak di angkasa bebas tapi harus terus bertasbih dan bergerak. Sebuah riset menemukan bahwa setiap benda di angkasa luar bergerak saling menjauhi, seolah alam raya ini tengah memuai (floating of the universe). Kita cermati sekali lagi, alam raya bergerak untuk bertumbuh, progressif sampai suatu titik dimana ia diperintahkan untuk berhenti, suatu titik dimana semuanya harus usai.


Bagi saya yang sangat percaya akan kalam Tuhan. Hal itu merupakan pembuktian atas kebenaranNya. Tak cukup disana, hal itu juga merupakan sebuah nasihat yang mencuat-atau dicuatkan- sebagai tambahan energi dikala saya membutuhkannya. Alam telah mengajari saya untuk tidak pernah duduk diam. Alam mengajari saya untuk bertumbuh, mengembang dan bergerak. Alam mendiktekan pada saya bahwa untuk mencapai kesuksesan yang saya impikan, saya harus mulai menggerakkan diri saya, menggerakan motivasi saya, menggerakkan dari yang terkecil dari yang terdalam dalam diri saya. Saya harus bergerak dan terus bergerak hingga ke atom-atom terkecil dalam diri saya.


Alam juga mengajarkan kepada saya, atak ada dialam ini yang bisa didapat dengan Cuma-Cuma. Matahari untuk bisa menjadi pusat tata surya mesti menggodok dirinya dan terus bereaksi sepanjang masa. Seandainya ia berhenti sesaat saja, pada sedetik saja, ia akan kehilangan gaya yang menarik planet disekitarnya, ia akan dilupakan sebagai pusat tata surya. Begitupun bumi, untuk mendapat cahaya disemua sisinya secara merata, ia mesti berputar tiada henti siang dan malam. Bila ia berhenti berputar, sebagian permukaannya akan hangus terbakar, dan sebagian lain akan menjadi lautan es.


Sebagai seorang entrepreneur, saya menemukan realitas itu dijalanan. Diluar pendidikan formal ataupun pengajian. Sama sekali di dunia yang asing dari formalitas yang kaku, dan saya memungutinya slayaknya saya memunguti remah-remah nasi yang tercecer di tanah. Saya memungutinya sebagai sebuah ilmu yang menjadi pemantik untuk menyalakan semangat saya dalam berkarya. Spirit saya dalam mencipta, berkreasi dan berprestasi. Saya percaya bahwa Anda sebagai entrepreneur pasti adakalanya membutuhkan suport, tenaga tambahan untuk tetap berdiri dan bertahan ditengah-tengah hempasan persoalan yang menimpa setiap harinya. Kebutuhan itu terlebih akan sangat dirasakan saat anda berada di titik nadhir kehidupan anda. Titik dimana anda berada pada posisi serba sulit, serba kejepit, terhimpit, tapi hidup masih harus berlanjut. Semua orang pasti akan mengalaminya, terlebih seorang entrepreneur. Bagi mereka yang saat membaca buku ini tengah mengalaminya, saya hanya bisa berkata; bersabarlah saudaraku, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti. Sebab berhenti berarti mati.

Tulisan ini sebelumnya pernah saya poting di benny_hitagawa.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.